Minggu, Oktober 11, 2026
BerandaHumanioraPAKAR: PEMBELAJARAN SECARA HIBRID KURANG TEPAT

PAKAR: PEMBELAJARAN SECARA HIBRID KURANG TEPAT

Jakarta, 25/3/2026 – Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta, Prof Susanto menilai pembelajaran secara hibrid yakni menggabungkan belajar daring dan tatap muka tidak tepat karena tetap berpotensi meningkatkan mobilitas secara tidak efisien, sehingga kurang sejalan dengan penghematan energi.

Dari perspektif neurosains, lanjut dia, interaksi langsung di dalam kelas memungkinkan aktivasi optimal berbagai fungsi otak, termasuk perhatian, emosi, dan memori.

Pembelajaran yang melibatkan kontak sosial, ekspresi nonverbal, serta pengalaman multisensori terbukti memperkuat pemahaman dan daya ingat siswa.
Sebaliknya, pembelajaran berbasis layar dalam sistem hibrid berpotensi mengurangi kualitas stimulasi kognitif.

Secara psikologis, keberadaan guru dan teman sebaya dalam satu ruang fisik mendukung terbentuknya ikatan emosional yang sehat. Menurut Susanto, hal ini penting untuk meningkatkan motivasi, rasa percaya diri, serta keterlibatan siswa dalam proses belajar.

Sementara, sistem hibrid yang membatasi interaksi langsung dinilai berisiko menimbulkan jarak emosional dan penurunan partisipasi aktif.

Dari sisi sosiologi pendidikan, sekolah merupakan ruang utama pembentukan karakter dan keterampilan sosial. Interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah melatih kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian konflik.

Sementara itu, dari sudut pandang pedagogi, konsistensi metode pembelajaran sangat menentukan keberhasilan akademik. Model hibrid kerap menghadirkan tantangan dalam penyampaian materi, pengelolaan kelas, serta evaluasi pembelajaran, yang berpotensi menciptakan kesenjangan hasil belajar antarsiswa.

Selain itu, aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Paparan layar yang berlebihan dalam pembelajaran daring dapat memicu kelelahan visual, gangguan tidur, serta penurunan aktivitas fisik, yang pada akhirnya berdampak pada kesiapan belajar siswa.

Susanto mendukung pembatalan rencana pemerintah untuk menerapkan sistem layanan sekolah hibrid sebagai bagian dari kebijakan efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM).

Dia mengingatkan, kebijakan sekolah hibrid memerlukan kesiapan menyeluruh mencakup aspek operasional, kesiapan infrastruktur, serta menghitung dampak jangka panjang terhadap perkembangan akademik dan non-akademik siswa.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Syaiful Hakim

Kantor Berita ANTARA

Redaksi JKTInfo.id

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments